Tahap
yang terakhir dari kegiatan budidaya tanaman kakao adalah pemanenan. Pemanenan merupakan kegiatan pengambilan bagian tanaman yang memiliki nilai ekonomis. Ciri-ciri tanaman kakao siap untuk dipanen yaitu: 1) tangkai buah mulai
mengering, tangkai buah yang mengering dan buah yang menempel jika dicabut
tidak sesulit buah kakao yang masih muda. Tangkai buah yang masih muda agak
sulit untukndicabut atau dipetik 2) buah kakao mengeluarkan bunyi jika
digoncangkan atau dikocok, biasanya buah yang sudah masak terdengar bunyi akan
tetapi jika masih mentah biasanya bunyi yang digoncang tidak akan berbunyi 3) Kegiatan yang dilakukan dalam pemanenan yaitu pemetikan buah kakao 4) dilihat dari kulit buah, biasanya
buah kakao yang sudah siap untuk dipanen memiliki warna secara sempurna. Warna
buah kakao biasanya apabila masih mentah berwarna hijau dan ketika sudah matang
berubah menjadi kuning sempurna, yang awalnya mentah merah berubah warna
menjadi jingga tua.
Pemanenan dilakukan sebanyak satu kali atau dua kali pada puncak panen yaitu setelah 5-6
bulan setelah pergantian musim. Petani biasanya memanen 5-6 kali pada puncak panen dengan interval satu minggu. Teknik panen memiliki pengaruh yang
besar terhadap tanaman kakao, sehingga harus dilakukan secara benar. Teknik panen kakao yaitu dengan cara di gunting pada bagian tangkainya. Pemotongan yang dilakukan harus sedekat mungkin
dengan buahnya yaitu menyisakan tangkai dengan panjang sekitar 1-1,5 cm. Tujuan
untuk menyisakan tangkai ini agar bakalan bunga yang akan menjadi buah kakao
baru, jika memotong habis tangkai buah maka sedikit kemungkinan akan berbunga. Tujuan menggunakan gunting ini agar tidak merusak jaringan yang ada di cabang buah tersebut, sehingga tanaman kakao tersebut dapat berbuah lagi. Apabila dalam memetik buah kakao menggunakan tangan dengan cara diputar, maka akan menyebabkan jaringan yang
ada di batang buah rusak, sehingga sulit untuk memproduksi buah lagi dan akan mengundang hama atau penyakit sehingga
tanaman akan terserang hama dan penyakit.
Budidaya merupakan kegiatan
utama yang dilakukan di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Budidaya tanaman
kakao menjadi kegiatan usaha yang dilakukan untuk mengembangkan tanaman kakao
mulai dari benih sampai menghasilkan tanaman kakao yang siap berproduksi.
Proses budidaya tanaman kakao dari benih sampai menghasilkan tanaman kakao yang
siap berproduksi harus melalui beberapa tahap. Berikut merupakan tahapan
budidaya tanaman kakao di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia.
Gambar 1. Proses Budidaya Tanaman Kakao
Persiapan lahan, proses budidaya kakao dimulai dari mempersiapkan lahan yang akan ditanami. Persiapan lahan dilakukan dengan cara membersihkan lahan dari gulma, kayu, maupun kotoran lainnya yang dapat menimbulkan ancaman bagi tanaman kakao.
Penanaman tanaman pelindung, tanaman pelindung berfungsi sebagai tanaman yang melindungi tanaman kakao agar tidak terlalu terpapar sinar matahari secara berlebihan. Tanaman pelindung yang biasa digunakan adalah tanaman lamotoro karena tanaman ini tidak mengandung inang yang akan mendatangkan hama.
Pembuatan lubang tanam dilakukan enam bulan sebelum tanam dengan, agar hama yang terdapat di dalam tanah mati karena terpapar sinar matahari. Pembuatan lubang tanam dengan ukuran lebar 60 cm dan kedalaman 60 cm.
Pemberian pupuk dilakukan dengan cara pemberian pupuk organik baik pupuk kompos maupun pupuk kandang pada lubang tanam dan dibiarkan terbuka selama 2 bulan.
Pembibitan bisa dimulai jika sudah membuat lubang tanam. Pembibitan membutuhkan waktu 7-8 bulan. Penutupan lubang dilakukan satu bulan sebelum tanam.
Penanaman, penanaman biasanya dilakukan pada bulan desember sampai dengan januari, hal ini dilakukan karena pada bulan tersebut merupakan musim penghujan. Waktu penanaman tergantung pada keadaan bibit apabila bibit sudah muncul tunas baru jangan langsung ditanam, tetapi harus dipotong terlebih dahulu bagian ujung tanaman kakao agar kelak tanaman kakao tidak mengalami kerdil pada akarnya.
Pemupukan, pemupukan setelah penanaman dilakukan pada saat tanaman sudah bisa beradaptasi dengan tempatnya. Pemupukan dilakukan secara melingkar pada tanaman kakao, hal ini bertujuan supaya pupuk dapat menyebar secara merata.
Perawatan dengan cara memperhatikan kebutuhan sinar matahari yang tidak terlalu banyak terhadap tanaman kakao menyebabkan kita harus merawat dan mengamati tanaman naungan. Tinggi tanaman kakao tidak boleh melebihi 4 m, karena untuk memudahkan perawatan dan pengendalian hama. Masa produktif tanaman kakao berkisar antara 25-30 tahun.
Kakao merupakan
salah satu produk pertanian yang memiliki peranan yang cukup nyata dan dapat
diandalkan dalam mewujudkan program pembangunan pertanian, khususnya dalam hal
penyediaan lapangan pekerjaan, pendorong pengemabangan wilayah, peningkatan
kesejahteraan petani dan peningkatan pendapatan/devisa negara.pengusahaan kakao
di Indonesia sebagian besar merupakan peerkebunan rakyat didesa-desa yang
tersebar dihampir seluruh provinsi di tanah air ssehingga agribisnis kakao
secara langsung berkesinambungan dengan kesejahteraan masyarakat kecil di
pedesaan. Dalam dua dasawarsa terakhir ini, areal kakao rakyat terus mengalami
pertumbuhan yang nyata sehingga produksi kakao nasional juga terus meningkat
seiring dengan peningkatan luas arealnya (Prawoto dkk., 2008).
Penduduk yang pertama kali memanfaatkan tanaman kakao adalah suku Indian Maya dan suku Astek, pemanfaatan tanaman kakao sebagai bahan makanan dan minuman jauh sebelum Columbus menemukan benua Amerika. Kedatangan suku Astek dari bagian utara ternyata dapat menaklukkan suku Indian Maya dan menguasai kebun-kebun kakao yang ada di daerah tersebut, sejak saat itulah suku Astek mulai belajar mengolah kakao tersebut menjadi bahan makanan dan minuman hingga bangsa Spanyol datang. Bangsa Spanyol merupakan bangsa petama yang dikenal menanam kakao pertama kali di Trinididad pada tahun 1525. Sejak tahun 1650, tanaman kakao masuk ke Indonesia yang dibawa oleh bangsa Spanyol hingga Indonesia dikenal sebagai negara pengekspor tanaman kakao (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, 2010).
Tanaman kakao diperkenalkan pertama kali di Indonesia pada tahun 1560, tepatnya di Sulawesi, Minahasa. Ekspor kakao diawali dari pelabuhan Manado ke Manila tahun 1825-1838 dengan jumlah 92 ton, setelah itu menurun karena adanya serangan hama. Hal ini yang membuat ekspor kakao terhenti setelah tahun 1928. Di Ambon pernah ditemukan 10.000 – 12.000 tanaman kakao dan telah menghasilkan 11,6 ton tapi tanamannya hilang tanpa informasi lebih lanjut. Penanaman di Jawa mulai dilakukan tahun 1980 ditengah-tengah perkebunan kopi milik Belanda, karena tanaman kopi Arabika mengalami kerusakan akibat serangan penyakit karat daun (Hemileia vastatrix). Tahun 1888 puluhan semaian kakao jenis baru didatangkan dari Venezuela, namun yang bertahan hanya satu pohon. Biji-biji dari tanaman tersebut ditanam kembali dan menghasilkan tanaman yang sehat dengan buah dan biji yang besar. Tanaman tersebutlah yang menjadi cikal bakal kegiatan pemuliaan di Indonesia dan akhirnya di Jawa Timur dan Sumatera (Karmawati dkk., 2010).
Tanaman kakao termasuk marga Theobroma, suku dari Sterculiaceae yang banyak diusahakan oleh para pekebun, perkebunan swasta dan perkebunan negara. Sistematik tanaman kakao menurut Susanto F. X. (2011) adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Anak divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Anak kelas : Dialypetalae
Bangsa : Malvales
Suku : Sterculiaceae
Marga : Theobroma
Spesies : Theobroma cacao L.
Berdasarkan
jenisnya, kakao yang dibudidayakan di Indonesia terdiri dari kakao jenis
Criollo, Forastero, dan Trinitaro. Kakao jenis Criollo merupakan tipe tanaman
kakao yang menghasilkan biji kakao kering premium yang biasa dikenal fine flavour cocoa. Forastero merupakan
tipe tanaman kakao yang menghasilkan biji kakao kering bermutu sedang yang biasa
dikenal ordinary caca. Trinitario
merupakan persilangan hibrida kakao jenis Criollo dan Forastero.
Ancaman ke depan
dalam pengembangan tanaman kakao adalah perubahan iklim global yang memicu
kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, hingga kekeringan. Pemulia tanaman
ditantang untuk merakit varietas unggul baru yang lebih adaktif terhadap
perubahan iklim. Pemuliaan tanaman kakao, saat ini dan di masa mendatang,
selain merakit varietas unggul baru yang memiliki sifat daya hasil dan mutu
tinggi, juga tahan terhadap cekaman biotik dan abiotik. Perakitan varietas
unggul kakao mempunyai beberapa tahapan yaitu pengumpulan materi genetik atau
plasma nuftah melalui eksplorasi maupun introduksi, evaluasi materi genetik dan
pemanfaatan materi genetik melalui proses seleksi, hibridisasi, mutasi dan
rekayasa genetik (Wicaksono dkk., 2017).
Kakao
merupakan tanaman menyerbuk silang sehingga tingkat keragamannya tinggi.
Keragaman merupakan sumber genetik untuk perbaikan varietas terutama dalam
mendapatkan genotipe yang diharapkan. Penanganan plasma nutfah kakao antara
lain meliputi: eksplorasi, koleksi, konservasi, karakterisasi, evaluasi, dan
dokumentasi harus dikelola dengan baik dan berkesinambungan agar memudahkan
dalam pemanfaatannya. Dengan tersedianya plasma nutfah dan informasi dari
setiap aksesi dapat membantu pemulia tanaman dalam merencanakan program
pemuliaan untuk merakit varietas unggul. Pemanfaatan plasma nutfah telah banyak
menghasilkan klon-klon yang dilepas sebagai varietas unggul.
Kegiatan yang menunjang program bioindustri kakao, kekayaan plasma nuftah yang
ada harus dikelola dengan baik dan berkesinambungan serta dilengkapi dngan
database yang lengkap sehingga pemulia dapat mengakses dan memanfaatkannya
dengan mudah dalam upaya menghasilkan varietas unggul (Martono, 2014).
Pemasaran merupakan suatu kegiatan yang
bertujuan untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat yang selanjutnya
melakukan penjualan produk. Pemasaran juga dapat diartikan sebagai sebuah
transaksi jual beli suatu produk yang dilakukan oleh petani langsung atau
perusahaan sebagai produsen kepada konsumen dengan tujuan untuk memenuhi
kebutuhan konsumen.
Pemasaran sendiri harus memenuhi dan memperhatikan empat unsur penting yang
dikenal sebagai 4P. Unsur 4P terdiri dari
product (produk), price (harga), place (tempat), dan promotion (promosi). Penjelasan mengenai 4P diuraikan sebagai
berikut:
Produk
(Product)
Hasil
produksi pertanian di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao yang banyak dipasarkan
salah satunya adalah produk olahan kakao. Produk olahan kakao yang dipasarkan
sangat beraneka ragam misalnya olahan coklat baik dark cokelat ataupun milk
cokelat, minuman cokelat, es krim cokelat, sebuk cokelat, hingga produk
kosmetik seperti sabun dan masker cokelat. Beranekaragamnya produk olahan kakao
tersebut mengakibatkan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao tersebut tidak dapat
memenuhi bahan olahan cokelat lain, oleh karena itu Puslit Koka melakukan kerja
sama (bermitra) dengan peusahaan lain. Perusahaan yang ditunjuk seperti PT
Rolas Mandiri, PT Losum, PT Ottimmo, PT Tainsant Indonesia, dan jenis mantra
lainnya.
Harga
(Price)
Harga
penjualan produk olahan Kakao khususnya yang terdapat pada outlet Pusat Penelitian Kopi dan Kakao berkisar antara harga Rp
2.000,00 hingga Rp 60.000,00. Harga per produk olahan misalnya olahan cokelat
baik dark cokelat ataupun milk cokelat berkisar Rp 7.000,00 – Rp 60.000,00,
minuman cokelat Rp 2000,00, harga es kri cokelat berkisar Rp 3.000,00 – Rp
5000,00, serbuk cokelat berkisar Rp 20.000,00 – Rp 30.000,00, dan kosmetik
dengan kisaran harga Rp 10.000,00 – Rp 30.000,00. Perbedaan harga produk produk
tersebut berdasarkan atas jenis produk, kualitas, hingga ukuran produk yang
beranekaragam. Harga-harga tersebut hanya berlaku pada penjualan di outlet Pusat Penelitian Kopi dan Kakao,
sehingga akan ada perubahan harga apabila penjulan atau pembelian dilakukan
diluar outlet tersebut. Misalnya
penjualan yang dilakukan oleh reseller,
jasa-jasa penjualan online, dan beberpa tempat penjualan lain yang menjual
produk olahan kakao dari Puslita.
Tempat
(Place)
Pemasaran
produk olahan kakao dilakuka secara langsung di area Pusat Penelitia Kopi dan
Kakao, disana terdapat sebuah outlet khusus
untuk menjual berbagai produk olahan baik komoditas kopi ataupun kakao. Outlet tersebut memiliki lokasi sangat
stategis dalam menarik konsumen. Kawasan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao yang
berlatar belakang wisata edukasi tersebut sangat banyak dikunjungi wisatawan,
sehingga dengan banyaknya wistawan yang datang secara langsung dapat berdampak
baik bagi pemsaran produk olahan kopi dan kakao di Puslit Koka. Pemasaran tidak
hanya bertempat di outlet tersebut
tetapi juga dipasarkan pada sebuah kegiatan bazar ataupun jasa-jasa penjualan
lain sehingga dapat juga dibeli di luar area Jember dengan produk utama berupa
“vicco” yaitu produk cokelat utama yang diproduksi oleh Pusat Penelitian Kopi
dan Kakao.
Promosi
(Promotion)
Proses pemasaran tentunya
membutuhkan usaha serta bantuan dari pihak-pihak tertentu untuk memperkenalkan
hasil produksi. Promosi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao
dalam menjual produk olahannya dengan berbgai macam cara yaitu dengan
penyebaran informasi produk melalui majalah perusahaan, telemarketing, seminar,
pemasaran dari mulut ke mulut, pameran dagang, serta presentasi penjualan.
Strategi promosi lain yang dapat dikembangkan yaitu dengan mengaktifkan
penjulan secara online dari bantuan jasa-jasa penjualan online serta
mengaktifkan informasi mengenai harga ataupun produk terbaru melalui website Pusat Penelitian Kopi dan Kakao.
Pemasaran hasil produksi kakao tentunya membutuhkan
perantara atau saluran pemasaran. Proses pemasaran hasil produksi tidak dapat
dilakukan menjual secara langsung ke konsumen. Saluran pemasaran diperlukan
agar produsen mengetahui kemana hasil produksinya terjual, dan sejauh mana
jangkauan konsumen dari hasil produksi atau hasil panen yang dimilikinya.
Saluran pemasaran hasil olahandapat disesuaikan dengan daerah, sarana dan
prasarana, serta besar kecilnya keuntungan. Berikut merupakan saluran pemasaran
kakao di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao:
Gambar 1 Saluran Pemasaran di Puslitkoka
Saluran pemasaran pada gambar 3.7 merupakan saluran
pemasaran pada komoditas kakao di PTPN XII Jember. Saluran pemasaran ditujukan
kepada konsumen dalam negeri dan konsumen luar negeri. Produsen sendiri
merupakan Puslitkoka yang menghasilkan input, dalam saluran pemasaran produsen
memberikan produk kepada Outlet yang berada di tempat Puslitkoka sendiri. Oulet
merupakan tempat perantara untuk memasarakan produk olahan kakao Puslitkoka
kepada konsumen dengan tujuan menarik konsumen yang berkunjung ke PTPN XII kopi
dan kakao, saluran pemasaran ini merupakan saluran lokal. Saluran pemasaran
internasional yang dilakukan oleh Puslitkoka yaitu memasarakan hasil usahatani
berupa biji kakao kepada Jepang untuk memenuhi permintaan indrustri
Jepang.
Kendala pemasaran Pusat Penelitian Kopi dan Kakao tersebut
adalah kurang maksimalnya komunikasi pemasaran terbukti dengan banyaknya
masayarakat khusunya masyarakat jember yang tidak mengetahui adanya produk
olahan cokelat lokal. Sedikitnya informasi di media sosial mengenai keberadaan
olahan cokelat juga menjadi penyebab terhambatnya pemasaran akibat minat
konsumen yang kurang karena terbatasnya informasi. Kendala tersebut dapat
diaatasi dengan perbaikan manajemen pemasaran produk terutama produk olahan
cokelat serta memperluas informasi mengenai produk olahan cokelat melalu media
sosial atau website khusus yang selalu memberikan informasi tebaru seperti
harga dan produk baru yang diproduksi oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao.
Kegiatan agroindustri merupakan kegiatan pengolahan hasil panen atau hasil pertanian dengan tujuan untuk meningkatkan bilai tambah dan tercapainya keuntungan yang semaksimal mungkin. Adanya kegiatan pengolahan hasil panen atau agroindustri akan membuat nilai jumlah produk bertambah dan minat konsumen lebih tinggi akan produk yang di olah tersebut. Kegiatan agroindustri tidah hanya menghasilkan produk yang benar-benar jadi saja, namun pengolahan produk menjadi barang setengah jadi juga merupakan kegiatan agroindustri. Pengolahan hasil pertanian akan semakin baik apabila didukung dengan adanya sumber daya manusia yang berkualitas. Adanya kreatifitas dalam mengolah suatu produk menjadi produk lain akan menarik minat konsumen untuk membelinya.
Proses produksi di pusat penelitian kopi dan kakao Indonesia tidak hanya
mencakup kegiatan budidaya usahatani saja, namun mereka juga melakukan kegiatan
agroindustri atau pengolahan hasil pertanian. Kegiatan agroindustri pada
tanaman kopi dan kakao di maksudkan untuk meningkatkan nilai jual produk kopi
dan kakao yang di usahakan.Kegiatan pengolahan kakao yang ada di pusat
penelitian kopi dan kakao Indonesia dilakukan dengan beberapa kali tahapan.
Proses pengolahan kakao, dilakukan setelah terlebih dahulu dipanen dan dipilih
buah yang masak dan dengan ukuran dan umur yang sama, supaya dihasilkan produk
yang seragam dan kualitas yang baik.
Berikut adalah Sistem pengolahan kakao di pusat penelitian kopi dan
kakao di Indonesia meliputi:
Sortasi
Sortasi buah kakao merupakan tahapan memilih buah kako dengan kualitas
dan mutu yang baik dengan cara melakukan pemisahan antara buah kakao yang
dengan kualitas kurang baik dan buah kakao yang meimiliki kualitas baik.
Memilih buah kakao yang baik diantaranya adalah buah kakao yang telah berwarna
kuning dan tidak terserang hama maupun penyakit. Kulit luar buah kakao yang
mulus dan tidak cacat akan dipisahkan dari buah kakao yang memiliki penampilan
luar cacat atau terserang penyakit.
Gambar 1 Mesin pemecah buah kakao
Pengupasan kulit kakao
Pengupasan kulit kakao dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan biji kakao dari kulit buahnya. Pengupasan biji kakao dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara manual dan dengan cara mekanis. Cara manual mengunakan alat-alat sederhana seperti parang atau golok yang tajam, sedangkan cara mekanis dengan menggunakan mesin. Pengupasan biji kakao di pusat puslit kopi dan kakao Indonesia ini menggunakan mesin pemecah atau pemisah dengan kapasitas 3.000 – 4000 tongkol buah/jam.
Gambar 2 Mesin pemecah buak kakao
Fermentasi buah kakao
Kegiatan fermentasi pada buah kakao dilakukan dnegan tujuan untuk
membentuk citarasa dan aroma yang khas dari produk coklat yang dihasilakn dari
buah kakao proses fermentasi juga dilakukan untuk mengurangi rasa pahit pada
coklat. Fermentasi buah kakao dilakukan selama 5-6 hari secara alami oleh
mikroba denagn bantuan oksigen di udara.Banyaknya biji kakao yang di fermentasi
minimal 40 kg dengan suhu sekitar 50-510C.Fermentasi biji kakao
dilakukan selama 5 hari, 2 hari didiamkan di dalam kotak dan 3 hari di
fermentasi. Proses fermentasi dapat
dilakukan dengan menggunakan ragi ataupun dengan menggunakan zat gula yang akan
memancing acetobacter bekerja.
Gambar 3 feremntasi biji kakao
Tahapan pengeringan
Proses pengeringan dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi kadar air pada biji kakao. Pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara. Cara yang pertama adalah penjemuran di bawah sinar matahari selama 5 hari. Tahapan penjemuran yang pertama dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi kadar air 55% menjadi 25% .tahapan yang kedua yaitu menggunakan sistem mekanis sehingga kadar air pada biji kakao mencapai 7%. Pengeringan dengan cara mekanis dapat dilakukan dengan 2 metode. Metode yang pertama menggunakan mesin drayer dengan kapasitas 2,5 ton biji kakao. Pengeringan dilakukan kurang lebih 40 jam dengan suhu sekitar 45-550C. sistempengeringan berasal dari pembakaran tungku dari pembakaran kayu lamtoro. Biji kakao tidak boleh terkena asap dari pembakaran kayu lamtoro secara langung, karena akan membuat biji kakao menjadi cacat dan rusak.
Gambar 4 mesin pengering biji kakao
Tahapan-tahapan yang
dilakukan dalam proses produksi biji kakao digunakan untuk mengasilkan berbagai
produk, seperti permen coklat, coklat batang, susu coklat, es krim coklat dan
lain-lain. Tahapan-tahapan dalam pembuatan coklat secara umum dapat di bedakan
seperti, pencampuran, penghalusan, tempering dan pengemasan.
Tahapan pertama yang dilakukan adalah
pencampuran adonan dasar dalam pembuatan coklat seperti pasta coklat, lemak
gula dan susu dengan takaran tertentu dengan mesin pencampur.
Tahapan kedua adalah penghalusan. Bahan-bahan
yang sudah tercampur dimasukkan kedalam mesin penghalus tipe roll bertingkat
.proses penghalusan ini dilakukan terus menerus dengan mesin koncing pada suhu
60-700C dengan waktu 18-24 jam. Bahan bahan yang telah di campurkan kemudian dihaluskan dimesin
penghalus tipe roll bertingkat taurefainer. Proses tersebut
dilakukan agar tekstur coklat menjadi lebih halus dan mudah untuk di cetak.
Gambar 5 mesin penghalus biji kakao
Tahapan ketiga adalah tempering yang
bertujuan untuk memperoleh coklat yang stabil, karena akan membentuk
Kristal-kristal lemak dengan titik leleh tinggi. kegiatan tempering dilakukan dengan
memperlakukan adonan pada kondisi suhu da waktu tertentu dengan mesin tempering
yang dilengkapi dengan pemanas da pendingin sekaligus.
Proses yang terakhir adalah pengemasan.
Pengemasan sangat berpengaruh terhadap kualitas produk coklat. Pengemasan
dibuat semenarik mungkin untuk mengingkatkan daya tarik konsumen.
Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam proses produksi
biji kakao digunakan untuk mengasilkan berbagai produk, seperti permen coklat,
coklat batang, susu coklat, es krim coklat dan lain-lain. Tahapan-tahapan dalam
pembuatan coklat secara umum dapat di bedakan seperti, pencampuran,
penghalusan, tempering dan pengemasan.
Tahapan pertama yang dilakukan adalah pencampuran
adonan dasar dalam pembuatan coklat seperti pasta coklat, lemak gula dan susu
dengan takaran tertentu dengan mesin pencampur
Tahapan kedua adalah penghalusan. Bahan-bahan yang
sudah tercampur dimasukkan kedalam mesin penghalus tipe roll bertingkat .proses
penghalusan ini dilakukan terus menerus dengan mesin koncing pada suhu 60-700C
dengan waktu 18-24 jam.
Tahapan ketiga adalah tempering
yang bertujuan untuk memperoleh coklat yang stabil, karena akan membentuk
Kristal-kristal lemak dengan titik leleh tinggi
Proses yang terakhir adalah pengemasan. Pengemasan dilakukan dengan
tujuan agar produkterlihat lebih menarik sehingga daya tarik konsumen untuk
membeli produk olahan kakao semakin meningkat.
Agroinput merupakan salah satu subsistem agribisnis yang digunakan dalam pengadaan dan penyaluran sarana produksi. Agroinput yang digunakan dalam budidaya tanaman kakao di Pusat penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) terdiri dari penyediaan bibit, pupuk, pestisida sebagai pengendalian hama, dan penyediaan modal. Bibit unggul yang digunakan akan berpengaruh pada produktivitas tanaman kakao nantinya. Pusat penelitian Kopi dan Kakao Indonesia juga membutuhkan pupuk untuk kebutuhan produksi buah kakao sendiri agar produksinya semakin meningkat. Kebutuhan pupuk sendiri Puslitkoka menyediakan pupuk baik sebelum tanam dan saat tanam. Pupuk yang digunakan adalah pupuk yang mempunyai unsur N, P, dan K.
Penyediaan input dalam
proses agoindustri berupa bahan baku produksi, alat-alat produksi, dan tenaga
kerja. Bahan baku biasanya disediakan oleh hasil usahatani yang ada di
Puslitkoka dan juga didapatkan dari mitra-mitra yang bekerjasama dengan
Puslitkoka. Alat produsi yang ada di sana sudah lengkap sampai tahap
pengemasan, yang mana alat yang digunakan di agroindustri kakao ini dibuat
sendiri di Puslitkoka. Alat-alat untuk produksi hasil olahan kakao tersebut
diantaranya adalah pemecah buah kakao (podbreaker),
tempat fermentasi biji kakao, penyangrai biji kakao, pemasta kakao, penggempa
1, penggempa 2, penggempa 3, penggempa 4, pembubuk kakao, penyangrai bubuk
kakao, pencetak coklat, dan yang terakhir alat pengemasan. Pengemasan di
pengolahan hasil produk kakao dilakukan dengan cara manual maupun dilakukan
dengan mesin otomatis.
Penyediaan modal di
Puslitkoka sendiri didapatkan dari hasil penjualan produk yang dijual di outlet Puslitkoka dan didapatkan dari
mitra kerja yang ada di dalam negeri dan yang berada di luar negeri. Mitra
kerja yang berada di dalam negeri merupakan petani dan LSM untuk penyediaan
bahan baku, sementara mitra kerja yang merupakan pihak dari luar negeri
bekerjasama dalam penyediaan modal dan pemasaran produk olahan kakao.
Penyediaan alat produksi Puslitkoka membuat sendiri alat tersebut agar
pengeluaran yang keluarkan lebih sedikit daripada harus membeli alat dari
perusahaan lain, dan juga dengan pembuatan alat secara pribadi di Puslitkoka
dapat menjaring tenaga kerja yang berada di sekitar daerah Puslitkoka. Strategi
yang digunakan Puslitkoka untuk menjaring tenaga kerja di sekitar daerah
penelitian, memberikan bantuan kepada orang-orang sekitar yang masih berstatus
sebagai pengangguran.
Hai guys, welcome to our blog. Kelompok J5 Teknologi Informasi..
Kami 6 mahasiswa berasal dari Prodi Agribisnis 18 Fakultas Pertanian Universitas Jember.. Kenalan dulu yuk sama anggota kelompok J5…
Andi Tri Wahyudi : 181510601086
Arina Amaliya : 181510601065
Saskia Sriwahyuning S. : 181510601070
Safira Feby W. : 181510601071
Rizka Maulidia : 181510601081
Ayu Retno Mileniawati : 181510601084
Blog ini bertujuan untuk menyediakan informasi mengenai budidaya dan agroindustri (agribisnis) dengan komoditas kakao yang berada di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka) yang berada di Kabupaten Jember, Jawa Timur.